Dan peraga langgar itu memuja jiwa jiwanya Meraup wajah rupawan dengan kapur dan bedak berwarna Lekas tawanya menyeruak pada indra Pemuja, mereka yang jatuh cinta Kepada peraga elok berjiwa keindahan, cintanya mengagungkan, mengagumkan. Pemuja yang dipuja, Peraga pun jatuh cinta Kepada mereka yang memahami hati dan dirinya sendiri Puji jiwanya pun tak ada hebatnya karena mereka peraga, lupa akan jati dirinya. Dan mereka bertanya, mungkinkah lupa ataukah tertukar pada jiwa yang sendirian.
Kemarin aku melirik temu ujung mata itu Sekarang aku menoleh lupa akan kehadiran mu Waktu kini selalu merangsang rasa ku untuk mengukur derajat Aku lupa, ternyata aku lupa, kita tak ada yang setara Sudah semu pula memory kala kita tertangkap saling meratap Selesainya kita hanya orang asing yang dejavu dimana kita pernah meratap sedalam itu Kita lupa, Haruskah kita mengulang kenal, tuan?